15 November 2007

Politik Paripurna "Si Moncong Putih"?

R Ferdian Andi R
INNchannels, Jakarta — Pengalaman adalah guru paling bijak. PDI Perjuangan tampaknya paham betul makna pameo ini. Melalui iklan layanan masyarakat, parpol wong cilik ini mempublikasikan laporan pertanggungjawaban kepada rakyat jilid II. Isinya tak lain soal kinerja Fraksi PDIP di DPR.

Melalui “Laporan Kepada Rakyat”, parpol berlambang moncong putih ini seakan ingin membuktikan bahwa pimpinan dan kadernya telah bekerja untuk rakyat. “Kami ingin menunjukkan kepada rakyat, PDIP adalah partai oposisi yang bukan hanya asal bunyi dan asal beda,” tegas Tjahjo Kumolo, Ketua DPP PDIP, kepada INNChannels, Rabu (14/11) siang.
Dua hal mendasar yang menjadi sorotan PDIP, yaitu semua aspek kebijakan pemerintah dan apakah kebijakan pemerintah itu berpihak kepada rakyat atau tidak.
Bukan baru kali ini PDIP melancarkan inovasi politik. Sebelumnya, parpol berideologi nasionalis ini mendirikan sayap organisasi, Baitul Muslimin Indonesia (BMI), sebagai wadah konstituennya yang beragama Islam.

Sejauh mana efektivitas gerakan partai pimpinan Megawati Soekarnoputri dalam menyongsong sukses Pemilu 2009? Sukses pemilu legislatif dan pemilu presiden. Dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), Oktober lalu, PDIP menempati posisi pertama dengan perolehan suara 20%. Padahal, Juli, PDI-P hanya meraih 17% suara.

“Dalam survei kami, perolehan suara PDIP cukup fluktuatif. Kadang mengungguli Partai Golkar, kadang juga di bawah Partai Golkar,” kata Saiful Mujani, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), kepada INNchannels.

Dalam laporan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA, Maret lalu, PDIP unggul di kota dan desa dengan banyaknya dukungan pemilih beragama Islam dan Kristen. Hal serupa terjadi pada pemilih di Jawa dan di luar Jawa. Khusus di kalangan suku Sunda, PDIP kalah dari Golkar. Di kategori pendidikan, PDIP unggul jumlah pemilih berpendidikan rendah, tapi kalah dari Partai Demokrat dalam jumlah pemilih berpendidikan perguruan tinggi.
“Laporan melalui media massa lebih menyasar pada pemilih kelas menengah yang memang minim dimiliki PDIP,” tegas Saiful. Di mata Saiful, pengumuman kinerja Fraksi PDIP kepada publik merupakan tradisi baru dalam kehidupan politik di Tanah Air.

Menurut hasil survei tentang pilihan pemilih terhadap partai politik, perolehan suara PDIP cenderung meningkat. Hasil yang hampir sama terjadi pula dalam survei pemilih terhadap pemilihan presiden. Popularitas Megawati dari waktu ke waktu cenderung meningkat. Pada riset Oktober 2006, Megawati meraih 18,3% suara, Desember 17,4%, dan Maret 2007 memperoleh 25,5%. Menariknya, naiknya popularitas Megawati secara simetris terkerek seiring dengan turunnya popularitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kini presiden.
Apakah pencapaian perolehan partai politik berbanding lurus dengan pencapaian popularitas Megawati? "PDIP selama ini tidak satu paket dalam mengusung dua agenda sekaligus pada pemilu 2009,” tegas Saiful.

Lebih lanjut Saiful mengatakan kinerja PDIP selama ini secara internal mungkin berdampak positif bagi kekompakan partai. ”Tapi, untuk menuju sukses Pilpres, PDIP harus bekerja lebih keras karena modal Pilpres tidak cukup hanya solid di internal,” tandasnya.
Meski begitu, elite dan kader PDIP beranggapan lain. Berbagai gerakanyang dilakukan selama ini adalah satu paket untuk sukses pemilu legislatif dan pemilu presiden. ”Yang kami lakukan selama ini ya satu paket, yaitu untuk sukses pemilu legislatif dan presiden, karena satu sama lain saling berkaitan,” kata Tjahjo.

Langkah inovatif PDIP lambat laun menunjukkan hasil. Indikasinya, hasil lembaga survei menunjukkan trend positif. Tapi, di sisi lain PDIP, juga harus bekerja lebih keras untuk mengecap sukses dua hajatan lima tahunan pada 2009.

Trend popularitas Megawati yang masih di bawah SBY harus menjadi pemantik semangat para kader PDIP untuk memoles figur capresnya. Karena pelaksanaan pemilu masih dua tahun lagi, performa Si Moncong Putih yang belum paripurna itu memang harus terus diuji.

No comments: