25 December 2007

Politisi Muda: Besar Syahwat, Kecil Karya

R Ferdian Andi R
Kini saatnya kaum muda memimpin! Itulah jargon yang populer menjelang Pemilu 2004. Saat itu para aktivis organisasi kemahasiswaan (aktivis 1998) memang tengah berlomba dalam perebutan kursi di lembaga legislatif.
Mereka antara lain adalah pendiri Forum Kota (Forkot) Luthfi Iskandar, mantan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Barita Simanjuntak, aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fitus Morin, dan mantan Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) David Pajung.

Ada juga Ketua Umum PMII Nusron Wahid, mantan Ketua Umum DPP IMM Piet Khaidir, mantan Ketua IPPNU Ratu Dian Latifah, mantan Wakil Ketua PB HMI Ahmad Dolly Kurniawan, dan mantan Ketua HMI Badko Jawa Bagian Tengah Teuku Ansyari.
Memang, tak semua politisi muda itu berhasil duduk di kursi legsilatif. Malah di luar nama-nama tersebut justru muncul sejumlah nama aktivis muda yang berhasil berkiprah di Senayan. Seperti Rama Pratama, mantan Ketua BEM UI periode 1998 yang hingga kini berkiprah di Senayan melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Bagaimana kiprah mereka saat ini di Senayan? Apakah jargon perubahan yang mereka usung saat menjelang pemilu kini telah tercapai? Atau sebaliknya, generasi muda negeri tersebut justru larut dalam permainan politisi para seniornya?
Arbi Sanit, pengamat politik dari Universitas Indonesia, melihat para politisi muda – khususnya aktivis 1998 – kini tidak berdaya di parlemen. Menurut dia, pola kepemimpinan di partai politik tempat mereka bernanung justru telah menutup peluang mereka untuk melakukan perubahan.
“Memang mereka pada awalnya mengusung isu dan semangat perubahan. Namun karena sistem politiknya tidak terbuka, mereka akhirnya tak bisa berbuat apa-apa,” tutur Arbi kepada INNChannels, di Jakarta, Minggu (23/12) siang.
Dalam pengamatan Arbi, saat ini para politisi muda hanya memiliki dua pilihan: Berjibaku atau tersesat. “Saat di luar ring kekuasaan, mereka lantang berteriak. Namun ketika masuk, mereka tak mampu menpengaruhi yang lainnya,” tegasnya.
Kondisi demikian diperparah dengan ketidakkompakan para politisi muda karena masing-
masing terjebak pada arus pencarian kekuasaan, seperti para seniornya. Bila kondisi demikian yang terjadi, kata Arbi, seharusnya para politisi muda mengambil langkah taktis dengan keluar dari Senayan, bukan tambah memperkuat kepentingan masa lalu di dalam.
Kendati demikian, Arbi memberi saran agar politisi muda tetap mempertahankan semangatnya dengan memperkuat pemikiran yang lebih inovatif. “Harusnya politisi muda memberikan pemikiran inovatif dan argumentatif yang kuat dalam perdebatan di Senayan,” tandasnya.
Tudingan Arbi memang beralasan. Direktur Reform Institute Jakarta, Yudi Latif, masalah utamanya adalah sejauh ini memang tak ada politisi muda beride besar yang masuk ke parlemen.“Sebaliknya, di zaman yang pebuh tantangan besar ini yang muncul hanyalah pemimpin muda yang kerdil, orang kerdil. Akibatnya, politik kerdil pula yang merajai republik ini,” katanya.


Dalam bahasa Eep Saefulloh fatah, meski rezim berganti tapi tabiat politik kalangan politisi mudanya tetap mencerminkan perilaku elite politik masa lalu. ”Regime changes, elite continues. Rezim berganti, tapi elitenya berlanjut dalam bentuk mindset dan tabiat politisi muda yang meniru perilaku buruk seniornya seperti KKN dan siap menghamba pada kekuasaan,” kata Eep Saefuloh Fatah.

Ironisnya, cap buruk ini diamini oleh sebagian politisi muda sendiri. Andi Rahmat, anggota Fraksi PKS DPR RI , misalnya tidak menampik anggapan bahwa situasi di Senayan sudah terkondisikan dengan sistem yang tak kondusif. “Ini menyangkut rule of game yang tidak mudah diubah,” katanya.Mantan Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) periode 2000-2002 ini menyebut, parlemen yang bertugas melakukan legislasi memiliki muara dari konsensus yang menonjolkan adu kekuatan antarfraksi. “Kontribusi politisi muda belum maksimal karena sistem yang tidak memungkinkan,” ungkapnya.

Ia menganalogikan, kiprah politisi muda di parlemen tak ubahnya dengan proses tranpalantasi di dunia medis. Ia menegaskan, kiprah politisi muda memang belum terasakan langsung oleh masyarakat. Namun, Andi memastikan secara perlahan politisi muda menunjukkan kiprahnya di parlemen. Secara pribadi, ia sendiri belum puas atas kiprahnya di Senayan selama tiga tahun terakhir. “Banyak hal yang tidak bisa saya lakukan,” tuturnya.

Namun bagi Andi, inilah konsekuensi dari kepuasan aktivisme yang tidak pernah selesai. Perbedaan perjuangan di luar Senayan dan di dalam Senayan baginya adalah hanya perbedaan setting perjuangan saja.Dalam pengamatan Budiman Sudjatmiko, Ketua Reformasi Perjuangan untuk Demokrasi (Repdem), kemandegan gerakan politisi muda di Senayan terletak dari belum selesainya reformasi di internal partai.“Yang terpenting adalah perubahan di internal partai. Bila hal tersebut berjalan, di mana pun kader partai ditempatkan (eksekutif, legislatif, red), ia akan berjalan efektif,” tegasnya kepada INNChannels, Senin (24/12).

Mantan Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini juga melihat, lumpuhnya peran politisi muda di Senayan karena terjadinya jarak antarpolitis tua yang lebih lambat dalam mengapresiasi perubahan dan politisi muda yang lebih tanggap atas perubahan.Budiman menambahkan, kondisi tersebut diperparah dengan penguasaan politisi tua di kendali partai. “Harus ada perombakan dalam struktur fraksi di partai,” usulnya.

Mantan tahanan politik di era Orde Baru itu menganggap wajar terjadinya perbedaan setting perjuangan aktivis muda di ekstra parlementer dan intra parlementer. Namun, kata dia, tak semestinya perbedaan tersebut semakin dijauhkan, sebaliknya harus didekatkan.
“Saya melihat hingga menjelang pemilu 2009 jarak antara perjuangan ekstra parlementer dan intra parlementer semakin jauh,” tegasnya.Siklus sejarah sepertinya selalu berulang. Semangat perubahan yang pernah dibangun para aktivis gerakan mahasiswa era 1966 sebenarnya tak jauh berbeda semangat para aktivis 1998. Namun publik dapat menilai dengan mudah bagaimana kiprah mereka di saat telah menjadi bagian dari kekuasaan.

Peran kaum muda tidak akan maksimal, bila tidak didukung perubahan sistem politik di negeri ini. Bila tidak ada perubahan, maka politisi muda hanya menjadi pengikut politisi seniornya semata. Kondisi ini sama halnya memutar kembali sejarah 1966 silam: Besar syahwat, miskin karya.

No comments: