
R Ferdian Andi R
INDONESIA adalah negeri yang mendapat anugerah luar biasa dari Tuhan dengan kepemilikan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah. Area hutan yang dimiliki seluas 88 juta hektare, namun setiap tahunnya menyusut 1,871 hektare. Sedangkan luas perairan Indonesia diperkirakan 5,8 juta kilometer persegi dengan garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 kilometer dan gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508.
Potensi kelautan Indonesia juga cukup beragam. Produk ikan yang diperkirakan sebanyak 6,26 juta ton pertahun dapat dikelola secara lestari, dengan rincian sebanyak 4.4 juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia dan 1,86 juta ton dapat diperoleh dari perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Potensi kekayaan alam yang potensial dalam persepektif ekonomi maupun lingkungan.
Namun, negeri ini tampaknya tak menghiraukan karunia Tuhan. Ragam bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia merupakan bukti nyata betapa penduduk negeri ini lalai dan abai terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.
Dalam ajaran Islam misalnya, jelas terungkap bahwa Allah melalui Alquran telah memberi sinyalemen bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan laut tidak lebih, karena ulah tangan manusia (dhoharo al-fasadu fii al-barri wa al-bahri bima fasadat aidi al-naas).
Dalil tersebut jelas, betapa Tuhan telah mengingatkan kepada umat manusia akan kerusakan alam. Eksploitasi berlebihan terhadap alam jelas akan berimplikasi negatif terhadap lingkungan.
Longsor dan banjir adalah bukti nyata betapa manusia rakus dan tidak bisa mengendalikan serta mengatur fungsi alam. Hampir dapat dipastikan, longsor yang terjadi di beberapa wilayah merupakan akibat banyak hutan yang gundul. Hutan sebagai penyanggah dan penyerap air telah berkurang.
Alam yang merupakan karunia Sang Pencipta jelas diperuntukkan untuk manusia. Namun, mengatur alam, mengatur lingkungan secara berimbang adalah merupakan keniscayaan. Di sini dibutuhkan keadilan terhadap alam dan lingkungan (al-‘adalah).
Adil yang merupakan sifat dan sekaligus ajaran Tuhan memberikan pesan, manusia harus adil terhadap lingkungan sekitarnya. Keadilan yang juga merupakan keseimbangan harus diterjemahkan dengan program dan aksi penyeimbangan terhadap lingkungan.
Program reboisasi adalah langkah benar. Program penanaman pohon adalah langkah yang tepat. Namun, program dan aksi tersebut jangan hanya berhenti di tataran seremonial semata. Program dan aksi tersebut jangan hanya berhenti di slogan.
Program tersebut jangan hanya menjadi komoditi pencitraan pejabat negeri saja. Program bermartabat tersebut jangan hanya dilakukan menjelang pelaksanaan konferensi iklim saja. Program reboisasi harus berkelanjutan (suistainable). Langkah ini menjadi hal yang bijak sebagai upaya manusia berkeadilan dengan lingkungannya.
Ajaran normatif agama pun jauh-jauh hari sudah menganjurkan pentingnya kebersihan. Dalam sebuah hadits nabi disebutkan kebersihan adalah sebagaian dari iman (al-nadlofatu min al-iman.)
Banjir Jakarta menjadi bukti nyata bahwa ajaran agama hanya berhenti di majelis suci keagamaan. Ajaran agama hanya menjadi gagah-gagahan saja. Ajaran agama hanya menjadi tagline di masjid dan surau saja.
Ajaran Tuhan belum maksimal ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Banjir Jakarta, selain dipicu penataan kota yang kurang tepat juga oleh tersumbatnya drainase. Banir Jakarta menjadi rutinitas tahunan. Artinya, membuang sampah di sembarang tempat masih menjadi kebiasaan sehari-hari.
Tuhan telah jauh-jauh hari memberi warning kepada umat manusia untuk hidup seimbang. Tak terkecuali keseimbangan terhadap alam dan lingkungannya.
Tuhan menganjurkan manusia untuk adil terhadap lingkungannya. Tuhan juga memberi amanat kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
Khalifah yang mampu menjaga dan merawat alam dan segenap isinya. Bukan khalifah yang menjadi perusak dan berlaku dhalim terhadap alam dan isinya. Inilah alasan pentingnya implementasi teologi lingkungan
Potensi kelautan Indonesia juga cukup beragam. Produk ikan yang diperkirakan sebanyak 6,26 juta ton pertahun dapat dikelola secara lestari, dengan rincian sebanyak 4.4 juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia dan 1,86 juta ton dapat diperoleh dari perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Potensi kekayaan alam yang potensial dalam persepektif ekonomi maupun lingkungan.
Namun, negeri ini tampaknya tak menghiraukan karunia Tuhan. Ragam bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia merupakan bukti nyata betapa penduduk negeri ini lalai dan abai terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.
Dalam ajaran Islam misalnya, jelas terungkap bahwa Allah melalui Alquran telah memberi sinyalemen bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan laut tidak lebih, karena ulah tangan manusia (dhoharo al-fasadu fii al-barri wa al-bahri bima fasadat aidi al-naas).
Dalil tersebut jelas, betapa Tuhan telah mengingatkan kepada umat manusia akan kerusakan alam. Eksploitasi berlebihan terhadap alam jelas akan berimplikasi negatif terhadap lingkungan.
Longsor dan banjir adalah bukti nyata betapa manusia rakus dan tidak bisa mengendalikan serta mengatur fungsi alam. Hampir dapat dipastikan, longsor yang terjadi di beberapa wilayah merupakan akibat banyak hutan yang gundul. Hutan sebagai penyanggah dan penyerap air telah berkurang.
Alam yang merupakan karunia Sang Pencipta jelas diperuntukkan untuk manusia. Namun, mengatur alam, mengatur lingkungan secara berimbang adalah merupakan keniscayaan. Di sini dibutuhkan keadilan terhadap alam dan lingkungan (al-‘adalah).
Adil yang merupakan sifat dan sekaligus ajaran Tuhan memberikan pesan, manusia harus adil terhadap lingkungan sekitarnya. Keadilan yang juga merupakan keseimbangan harus diterjemahkan dengan program dan aksi penyeimbangan terhadap lingkungan.
Program reboisasi adalah langkah benar. Program penanaman pohon adalah langkah yang tepat. Namun, program dan aksi tersebut jangan hanya berhenti di tataran seremonial semata. Program dan aksi tersebut jangan hanya berhenti di slogan.
Program tersebut jangan hanya menjadi komoditi pencitraan pejabat negeri saja. Program bermartabat tersebut jangan hanya dilakukan menjelang pelaksanaan konferensi iklim saja. Program reboisasi harus berkelanjutan (suistainable). Langkah ini menjadi hal yang bijak sebagai upaya manusia berkeadilan dengan lingkungannya.
Ajaran normatif agama pun jauh-jauh hari sudah menganjurkan pentingnya kebersihan. Dalam sebuah hadits nabi disebutkan kebersihan adalah sebagaian dari iman (al-nadlofatu min al-iman.)
Banjir Jakarta menjadi bukti nyata bahwa ajaran agama hanya berhenti di majelis suci keagamaan. Ajaran agama hanya menjadi gagah-gagahan saja. Ajaran agama hanya menjadi tagline di masjid dan surau saja.
Ajaran Tuhan belum maksimal ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Banjir Jakarta, selain dipicu penataan kota yang kurang tepat juga oleh tersumbatnya drainase. Banir Jakarta menjadi rutinitas tahunan. Artinya, membuang sampah di sembarang tempat masih menjadi kebiasaan sehari-hari.
Tuhan telah jauh-jauh hari memberi warning kepada umat manusia untuk hidup seimbang. Tak terkecuali keseimbangan terhadap alam dan lingkungannya.
Tuhan menganjurkan manusia untuk adil terhadap lingkungannya. Tuhan juga memberi amanat kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
Khalifah yang mampu menjaga dan merawat alam dan segenap isinya. Bukan khalifah yang menjadi perusak dan berlaku dhalim terhadap alam dan isinya. Inilah alasan pentingnya implementasi teologi lingkungan

No comments:
Post a Comment